Suara Pembaharu
Ekonomi

Perekonomian Sulut Unggul dari Nasional

Manado – Perekonomian Sulawesi Utara tahun 2019 tumbuh 5,66 persen dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya 5,02 persen. Ini menunjukkan pertumbuhan ekonomi Sulut lebih tinggi dari nasional.

Hal itu diuangkapkan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut DR. Ateng Hartono di kantor BPS Sulut, Kamis (5/2/2020).

Ateng menjelaskan, ada tiga lapangan usaha yang memberikan pertumbuhan tinggi di Sulawesi Utara yang pertama jasa pariwisata, jasa hiburan dan faktor pendukungnya, yang kedua jasa pendidikan dan yang ketiga pengadaan listrik, gas dan es.

“BPS mencatat ekonomi Sulut sepanjang triwulan IV 2019 bertumbuh cukup signifikan sebesar 8,13 persen dibanding triwulan sebelumnya,” jelasnya.

Sementara itu, dari sisi produksi, Ateng mengatakan, pertumbuhan didorong oleh hampir seluruh lapangan usaha, dengan pertumbuhan tertinggi dicapai lapangan usaha jasa lainnya sebesar 15,75 persen.

“Sementara dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh kelompok pengeluaran konsumsi LNPRT yang tumbuh sebesar 7,81 persen,” katanya.

Lebih jauh, Ateng menjelaskan, jasa lainnya, sangat dipengaruhi oleh beberapa iven pariwisata yang ternyata cukup banyak mendatangkan wisatawan. Selain itu tempat karaoke, salon, dan beberapa usaha jasa lainnya tumbuh positif sepanjang 2019.

Pertumbuhan ekonomi Sulut dipengaruhi juga oleh jasa pendidikan sebesar 11,94 persen, dan pengadaan listrik, gas, dan produksi es sebesar 9,18 persen.

“Jadi perekonomian Sulut berdasarkan besaran Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga berlaku di 2019 mencapai Rp130,20 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp89,03 triliun,” jelas Ateng.

Ia menambahkan, adanya pertumbuhan negatif yaitu di lapangan usaha administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib yakni sebesar -0,04 persen.

Sementara struktur perekonomian Sulut menurut lapangan usaha tahun lalu masih didominasi oleh tiga lapangan usaha utama yaitu pertanian, kehutanan, dan perikanan (20,83 persen), perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor (12,75 persen), dan konstruksi (11,79 persen).
(tsir)

Baca Juga :  Serentak di Sulut, Beli Solar Subsidi Wajib Pakai QR Code

Postingan lainnya