Suara Pembaharu
Artikel

Kehausan di Samudera Zam Zam

“Hakikat Haji di Ka’bah Hati – JENDELA Ketiga ZAIN AL-‘ABIDIN”

Ka’bah, bangunan kuno segi empat yang dibangun dengan dasar empat kalimat tasbih yang pertama kali di dengungkan Para Malaikat semukarrabin sebagai bentuk puja puji kepada sang Khalik Rabbul Jalil ketika mencipta sang tiada ‘Adam as dan memerintahkan mereka untuk rebah sujud kepadanya, kecuali sang ‘Azazil Iblisa. Dan ketika para penghuni alam Malakut tersebut mengangkatkan kepala dari sujud, yang ada di hadapan mereka bukan lagi sang ‘Adam as melainkan sang Raja semesta Alam, maka bertasbihlah mereka bersama semesta Subhanallah walhamdulillah walaa ilaha illallahu wallahu akbar.

Gemuruh di dada para peziarah itu, syahdu dalam lautan cinta Ilahi. Sejajar mereka dengan hajar al-aswad, bersiap untuk mencontoh para malaikat, menari nari bak darwisi mengitari pusat energi.

Namun sang murid kembali seperti di sambar halilintar ketika sayyidil Imam Sajjad as mulai berbicara…

TANYA : Apakah Anda sudah menyentuh Hajar Aswad, dan melakukan shalat sunnah dekat Maqam Ibrahim?
JAWAB : Ya, saya sudah melakukannya.

Mendengar jawaban asy-Syibli sang murid, maka sang guru menangis dan memandangnya seraya berkata:
“Ya sungguh benar, barangsiapa menyentuh Hajar Aswad, ia telah menyentuh “berjabat tangan” Allah. Karena itu, ingatlah baik-baik wahai manusia, janganlah sekali-kali kalian berbuat sesuatu yang menghinakan martabatmu, jangan menjatuhkan kehormatanmu dengan perbuatan durhaka dan maksiat kepada Allah , jangan melakukan apa saja yang diharamkan oleh Allah swt sebagaimana dilakukan para pendosa.

TANYA : Ketika berdiri di Maqam Ibrahim, apakah Anda menguatkan tekad berdiri di jalan kebenaran dan ketaatan kepada Allah swt, dan bertekad meninggalkan semua maksiat?
JAWAB : Tidak, saat itu tekad tersebut belum kusebutkan dalam niatku.

Baca Juga :  Membaca Demokrasi Indonesia Hari Ini

TANYA : Ketika melakukan shalat dua rakaat di sisi Maqam Ibrahim, apakah Anda berniat mengikuti jejak Nabi Ibrahim dalam ibadahnya, dan kegigihannya dalam menentang ajakan setan?
JAWAB : Tidak.

KESIMPULAN : Kalau begitu, Anda belum berjabatan tangan dengan Hajar Aswad, belum berdiri di Maqam Ibrahim, dan belum melakukan shalat di sisi Maqam Ibrahim.

TANYA : Apakah Anda sudah memperhatikan sumur Zamzam dan minum airnya?
JAWAB : Ya, saya sudah melakukannya.

TANYA : Ketika memperhatikan sumur itu, apakah Anda mencurahkan semua perhatian untuk mematuhi semua perintah Allah. Dan apakah saat itu Anda berniat untuk memejamkan mata dari segala kemaksiatan?
JAWAB : Tidak.

KESIMPULAN : Jika demikian, Anda belum memperhatikan sumur Zamzam dan belum minum air Zamzam.

Mengeringlah bibir sang murid, lidahnya keluh tak bisa berucap lagi. Wajahnya muram, malu tuk menatap wajah Allah, namun dengan wajah yang mana lagi harus menatapNya dan dengan lidah yang mana lagi harus bermohon kepadaNya….

Bersambung…..

Penulis : Andi Muhamnad Nur

Postingan lainnya