Problema Kawin Muda di Bitung

Problema Kawin Muda di Bitung

 

Bitung – Pernikahan anak masih jadi masalah serius di Kota Bitung, perempuan berusia 15 tahun kerap dinikahkan orangtuanya dengan dugaan memalsukan umur mereka ke Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil setempat. Mereka memanfaatkan lemahnya basis data pemerintah.

Perkawinan dini di Bitung memang hal lumrah. Beberapa warga bahkan sengaja memalsukan usia anaknya, demi mendapatkan buku nikah dari Kantor Urusan Agama (KUA) setempat.

Jesica “bukan nama sebenarnya” terpaksa harus menikah di usia 15 tahun, dia tak bisa berbuat banyak ketika keluarga seorang lelaki yang tak dia kenal datang melamar ke rumahnya di Kecamatan Maesa, Kota Bitung, Sulawesi Utara.

“Saya tak bisa menolak karena sudah terlanjut,” kata Jesica.

Ibu Jesica, Suriati “juga nama samaran” mengatakan, keluarga memang memutuskan menikahkan anak mereka dengan alasan sudah hamil di luar nikah. Mereka berdua menolak nama aslinya dipublikasikan dengan alasan takut stigma di masyarakat.

“Yang penting sudah selamat, dan ada yang bertanggung jawab, itu saja” beber Suriati (36), dia juga mengaku menikah di usia belasan tahun.

Meski begitu, Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Bitung, Efrainhard Lomboan membantah jika perubahan data warga masyarakat di kartu keluarga bisa dilakukan dengan begitu mudah.

“Sampai saat ini saya belum menemukan ada yang memalsukan data. Karena selama ini data yg diberikan lengkap dari kelurahan kalau tidak lengkap tidak akan di proses,” ucap Lomboan, Kamis (04/04/2019).

Bahkan proses pencatatan perkawinan, kata Lomboan, akan di laksanakan jika anak berumur 15 tahun telah ada penetapan pengadilan tarkait database Dukcapil.

“Dan sebelum di catat mereka di konseling di konseling di dinas pemberdayaan anak,” katanya.

Berbeda dengan Lomboan, Kepala Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kota Bitung, Tjelly Lengkong menjelaskan, Dinasnya sudah optimal dalam melakukan sosialisasi-sosialisasi di pelosok-pelosok kota Bitung dalam hal Stop perkawinan anak dibawah umur.

“Kami sudah sampaikan hal tersebut kepada tokoh, masyarakat, agama, camat dan lurah. Tapi memang dalam hal ini juga tanggung jawab orang tua,” ujar Lengkong.

Dia juga menambahkan, peran orang tua harus lebih ditingkatkan kepada anak-anak yang masih dibawah umur apalagi saat ini dunia digital sangat luas.

“Membuka konten-konten dilarang berpengaruh juga terhadap prilaku terhadap anak, orang tua harus berperan aktif,” pungkasnya.

(YaserBaginda)

CATEGORIES
TAGS
Share This
%d bloggers like this: