Pilwako Bitung dan Elektabilitas Semu

Pilwako Bitung dan Elektabilitas Semu

Bitung – Pilwako sedianya akan di gelar tahun depan. Tapi, tahapan penetapan calon Pilwako sudah akan berjalan beberapa bulan lagi.

Kurang lebih akan ada interval waktu 1 tahun dari tahap penjaringan calon hingga ke pelaksanaan pilkada serentak tahun depan.

Setiap calon harus bisa secara jelih berkalkulasi politik untuk terjun ke dalam arena tarung pilwako Bitung. Kualitas figur harus ada integritas, profesionalitas kompetensi, gagasan visioner strategis aplikatif serta punya relasi sosial masyarakat urgen dibutuhkan dalam membangun popularitas dan elektabilitas politik yang solid dan masif.

Para kandidat ‘diharamkan’ tidak boleh asal tergiur dengan sugesti para pembisik yang hanya akan berspekulasi politik dengan dasar yang rapuh. Tidak bermaksud memicu pesimisme dari para kandidat. Tapi, mengajak untuk berpikir rasional secara politik.

Setiap langka dan inisiasi politik yang dibangun dengan mengeluarkan biaya politik harus bisa memicu ‘feedback elektabilitas’.

Karena sensasi popularitas politik tanpa di sertai dengan solidaritas dukungan akar rumput hanya akan membangun elektabilitas semu, seperti ibaratnya Balon yang menggelembung besar tapi jika ada bocornya seketika juga akan kempes.

Dalam dinamika politik yang penuh kemungkinan, kepintaran intelektual di rasa tidak cukup karena harus lebih memiliki insting politik yg tajam. Realita politik yang menyedihkan kadang membuat para intelek tanpa insting politik terjebak dalam permainan politik ala bola ping pong.

Insting politik ini lebih pada kemampuan membaca apa yg tidak tertulis dalam sebuah manuver politik. Kemampuan membaca proyeksi politik jangka panjang sekalipun baru di mulai dri satu langkah politik.

Pilwako Bitung melibatkan kurang lebih 137.908 DPT dan 675 TPS (data Pileg kemarin), kondisi sosial masyarakat yang heterogen membuat pendekatan politik yang spesifik mutlak di perlukan. Melihat kondisi real saat ini, banyaknya figur potensial bermunculan, seperti Max J Lomban (NasDem), Maurits Mantiri (PDIP), Cindy Warangian (Golkar), Ramlan Ifran (Nasdem), dan Superman Boy Gumolung (PKPI) menuju bersa Pilwako Bitung, apalagi di prediksi kontestasi akan kian ramai karena masyarakat di suguhkan dengan figur alternatif seperti, Jousep Maringka (Keon), Yusuf Sultan, dan Ferry Jubiantoro (teng hun).

Mengingat Bitung sebagai kota yang penduduknya hampir memiliki pemilih rasional yang cukup berimbang, maka strategi merajut simpul massa harus bisa menjual kompetensi dan track record kandidat ke ruang publik.

Pencitraan politik harus terbangun alami dari arus bawah dan bukan settingan agitasi politik. Bukan masalah salah atau tidak, tapi pemilih rasional hari ini kian cerdas, mereka punya ketajaman membedakan antara politik organik dan politik rekayasa.

Oleh karena itu, mari kita berkalkulasi dalam membaca peluang politik menuju bursa pilwako Bitung.

Oleh : Yaser Baginda

CATEGORIES
TAGS
Share This
%d bloggers like this: