Orang Mati Jadi Blusukan Politik di Bitung

Orang Mati Jadi Blusukan Politik di Bitung
Gambar ilustrasi

Menjelang perhelatan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Bitung calon petahan mulai turun gunung untuk menarik simpati publik.

Berbagai kegiatan keagamaan, organisasi, dan makan nasi kuning dipinggiran jalan hingga datang melayat ke orang mati dijangkau petahana untuk blusukan di Kelurahan-kelurahan.

Di penghujung periode, calon petahana seperti terlihat keluar dari fase amnesia, satu sikap lupa-lupa ingat. Eksekutif lupa akan janji, masyarakat pun tak kuasa bagaimana janji mereka dapat ditagih.

Pun demikian, janji adalah konteks yang tak perlu ditagih. Karena ia adalah hutang yang mesti diupayakan untuk dibayar dalam medan pengapdian sumpah jabatan.

Sebagai pemilik mandat, masyarakat pemilih punya kuasa menagih janji. Dan orang-orang tersumpah itu wajib melunasinya.

Panggung Politik

Saya juga tidak tau siapa yang meciptakan kosakata blusukan ini. Tapi, sebenarnya kita bisa menghitung jumlah laku blusukan yang dilakukan oleh pemeritahan Max J Lomban dan Maurits Mantiri hingga diujung periode secara pengamatan menurut saya tidak begitu fantastis karena sifatnya insidental.

Tapi, dengan begitu kita seakan mendapatkan sosok pemimpin demokrasi yang paling asli, paling merakyat, paling pambae (baik) meski sebenarnya ini hanya satu bentuk kepemimpinan. Apalagi model kepemimpinan ini seakan menjadi antitesis dan kritik terhadap gaya kepemimpinan yang selama ini terlalu birokratis, lambat, dan seperti tidak ada persentuhan dan perjumpaan dengan rakyat.

Gaya/model kepemimpinan ini seakan menjadi barometer kepemimpinan tanpa hendak melihat permasalahan, besarnya kapasitas kebijakan, sejauh mana pandangan dan pengaruhnya ke depan, dan sebagainya. Untuk saat ini, entah sampai kapan, gaya kepemimpinan ini masih akan menjadi tren yang sangat diharapkan rakyat.

Penulis: Anak Kolong Langit

CATEGORIES
TAGS
Share This
%d bloggers like this: