Kita Belum Selesai Soal Kebhinekaan

Kita Belum Selesai Soal Kebhinekaan
Imam Alfian

Belum sepekan kita merayakan kemerdekaan RI tercinta, kembali prinsip kebhinekaan kita tercoreng oleh sikap intoleran oleh sekelompok ormas di Surabaya terhadap mahasiswa Papua, Aksi Massa yang dari organisasi massa menyerang dan mengepung asrama Mahasiswa Papua di Surabaya.

tentu saja ini sikap reaksioner yang terlampau berlebihan, sebelumnya aksi di lakukan oleh aliansi mahasiswa papua di Malang dalam rangka memperingati hari New York Aggrement dengan tuntutan melakukan referendum kembali di papua kemudian berujung ricuh dengan aparat, bagi kami mahasiswa demo kemudian rusuh “Mungkin” sudah biasa. bisa jadi ada bias makna dari substansi aksi oleh massa yang lain sehingga aparat bertindak, yang tidak biasa adalah sikap Walikota Malang yang mengeluarkan statemen membuka opsi untuk mengusir mahasiswa Papua dari Malang yang menambah kegaduhan hingga Gubernur Papua dan Papua Barat pun angakat bicara terkait statemen itu dan menyayangkan hal itu di sampaikan seorang pejabat pemerintah yang harusnya menjadi mediator ini malah menjadi provokator.

Saat ini di beberapa kota besar di Papua dan Papua Barat terjadi aksi massa, yang tidak tanggung – tanggung meminta kemerdekaan bagi Tanah Papua. dampak peristiwa diatas akibatnya kemudian memicu terjadinya konflik horizontal antara masyarakat pendatang, Aparat TNI/Polisi dan Orang Asli Papua.

Kejadian – kejadian tersebut seakan memperpanjang rentetan sejarah kelam yang menyoal Keberagaman kita yang masih jauh dari kata “Seragam”. Kenyataanya keberagaman kita seakan menjadi pil pahit yang sulit di telan oleh anak bangsa yang di harapkan dapat menjadi obat menuju bangsa yang sehat dalam konteks hidup beraneka ragam, Falsafah kebhinekaan kita seakan hanya sebatas stempel akreditasi yang “Seolah – olah” menjadi Indentitas dalam meraih predikat Bangsa yang Besar dan Beragam di mata Negara – Negara yang lain. Bahkan di pemerintah begitu banyak program dalam rangka membangun Narasi Ideologi bangsa Indonesia bahkan saking pentingnya Presiden Joko Widodo membentuk sebuah wadah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) yang bertanggung jawab melakukan kegiatan yang berkaitan dengan pembinaan Ideologi tentu dengan anggaran yang tidak sedikit, namun kenyataannya tidak memeberikan dampak apa – apa dalam membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya hidup dalam bingkai Kebhinekaan.

apa yang terjadi di Papua seakan membuka kembali rentetan peristiwa yang terjadi di Papua, Mulai dari Papua peristiwa Pepera 1969 yang penuh dengan teori konspirasi dua pandangan yang sama yang di lontarkan menyoal Pepera pendeta socrates sofyan yoman dan aktivis senior papua filep karma.

“Pepera 1969 telah dilaksanakan di Tanah Papua Barat sesuai dengan sistem Indonesia, yaitu musyawarah. Pelaksanaan dengan cara Indonesia ini sangat berlawanan dengan isi Perjanjian New York 15 Agustus 1962 yang disetujui oleh PBB, Amerika, Belanda dan Indonesia bahwa Pepera 1969 dilaksanakan dengan sistem dan mekanisme Internasional, yaitu one man one vote,” kata Pendeta Socratez dalam artikel berjudul “Ketidakadilan dan Kepalsuan Sejarah Integrasi Papua ke Dalam Wilayah Indonesia Melalui Pepera 1969”.

Pada 11 Desember 2002, Pendeta Socratez dapat cerita dari Purnawirawan Polisi Christofel L. Korua. Ia berkisah: “Orang-orang Papua yang memberikan suara dalam PEPERA 1969 itu ditentukan oleh pejabat Indonesia dan sementara orang-orang yang dipilih itu semua berada di dalam ruangan dan dijaga ketat oleh militer dan polisi Indonesia.

“Menurut laporan resmi PBB, Annex1 paragraf 189-200, “Pada 14 Juli 1969, Pepera dimulai dengan 175 anggota dewan musyawarah untuk Merauke. Dalam kesempatan itu kelompok besar tentara Indonesia hadir.”

Filep Karma, aktivis Papua, pernah bilang, “Indonesia menganggap one man one vote tidak cocok untuk Papua. Orang Papua dianggap masih terbelakang, belum siap buat referendum, Indonesia ingin pakai sistem musyawarah,” kata Filep dalam buku Seakan Kitorang Setengah Binatang (2014).
(Sumber : Tirto.id)

artinya bahwa ada halaman ingatan sejarah yang sengaja di hilangkan dalam kepentingan kedaulatan Negara.

Jika kita melihat dalam sudut pandang Benedict Anderson tentang Terbentuknya sebuah Nasionalisme, Akar kata dari nasionalisme adalah ”nation” atau sering secara umum kita artikan sebagai suatu bangsa. Memang secara kebahasaan dalam Oxford; Dictionary of Politics (1996) akar kata dari nasionalisme dikatakan berasal dari ”nation” yang diambil dari kata-kata dalam bahasa Inggris yang merujuk kepada ”natal” dan ”native’ , yang dapat diartikan sebagai kelahiran atau sekarang dapat diartikan sebagai bangsa. Namun sesungguhnya kata-kata nationalism diambil dari bahasa latin nationem yang mengacu kepada suatu unit tertentu, lebih mengarah kepada suku dan keluarga, yang mana mempunyai keluasan karakteristik yang lebih dibandingkan sekedar kesukuan atau keluarga. Seperti misalnya mempunyai karakteristik kewilayahan dengan batas-batas yang jelas.

Lebih kurang dua puluh tahun yang lalu, Benedict Anderson (1991), dalam “Imagined Community” telah memperkirakan dan memprediksikan bahwa sesungguhnya imaginasi atau bayangan bukanlah sekedar khayalan kosong belaka. Bayangan atau imaginasi didalam alam pikiran Ben Anderson menjadi suatu alat kekuatan yang solid dan maha dahsyat ampuhnya. Dalam bukunya itu, ia secara empiris membedah bangsa dan negara. Bangsa lebih mengacu kepada pemahaman atas suatu masyarakat yang mempunyai akar sejarah yang sama dimana praxis pengalaman atas penjajahan begitu kental dirasakan oleh masyarakat terjajah dan semakin lama akan semakin mengkristalkan pengalaman atas rasa solidaritas kebersamaan yang tinggi diantara mereka. Negara dalam konteks ini menurut Ben Anderson lebih mengacu kepada bagaimana peran dan kesepakatan-kesepakatan politik yang mempengaruhi kebentukan suatu Negara, dimana sangat erat terkait dengan politik penjajah ketika itu.

Menurut Ben Anderson, pengertian bangsa tidak hanya diartikan secara flat atau datar dengan hanya sekedar memaknainya ”mempunyai akar sejarah yang sama”. Di tangan Ben Anderson pemahaman bangsa mempunyai pengertian yang dinamis sekaligus menantang. Imajinasi atau bayangan menurutnya adalah suatu bahan yang merajut ikatan emosional dan solidaritas antar pendukung bangsa, meskipun antara satu dan yang lain belum tentu saling mengenal. Dan memang itulah inti kekuatan bangsa dimata Ben Anderson. Menurutnya bangsa sanggup menyatukan berbagai diaspora partisan-partisan bangsa yang ada dibelahan bumi yang lain, serta terpisah untuk menjadi satu ikatan kekuatan yang solid dan penuh solidaritas.

Jika kita berkaca pada Pepera 1969 menurut pendeta Socrates dan filep karma nampak bagi orang papua tidak ada sama sekali bayangan ataupun Imajinasi tentang keinginan berintegrasi dengan bangsa Indonesia atau dengan kata lain Imajinasi kebangsaan dalam benak orang papua adalah bagian tersendiri dari Kebangsaan Indonesia.

dalam pandangan Politik sebuah negara seolah ada unsur Kesengajaan memaksakan papua terintegrasi dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. singatnya bahwa proses integrasi Papua ke Indonesia masih berlangsung dalam bentuk kebijakan politik pemerintah Misalnya Lewat UU Otonomi Khusus, UP4B, Masifikasi Pembangunan aksesibiltas seperti jalan Trans Papua, bandara dll, dalam rangka mengentaskan kesenjangan harga bahan pokok antara di Kota dan di Pedalaman Papua yang begitu jauh semua ini di lakukan demi menjaga papua agar tetap dalam pangkuan Ibu Pertiwi. dalam pandangan lain bisa jadi jika kita kaitkan dengan teori Ekonomi Politik bahwa hal itu dilakukan dalam rangka negara membayar mahar dari eksploitasi Sumber Daya Alam yang Papua yang tidak wajar yang di mainkan elit politik di Jakarta demi Keuntungan Negara dan itu berbanding terbaik dengan kesejahteraan orang Papua, kita ketahui bersama bahwa banyak skali SDA yang di keruk sebut saja salah satu Tambang Emas terbesar di dunia yang di kelola PT. Freeport dan masih banyak lagi hasil alam yang di eksploitasi . kalau sudah seperti itu tentu ini benar – benar bukan lagi soal Kebangsaan yang berbeda antara Indonesia dan Papua, tetapi ini bentuk penindasan.

Intinya dalam tulisan ini adalah kenyataannya kita belum selesai dengan Kebhinekaan, yang idealnya bahwa dalam pandangan saya jika papua “Memang” dianggap bagian integral dari NKRI kita bersihkan dulu otak kita yang terlalu berdaulat dengan kesukukan kita sehingga tidak mampu menerima kenyataan perbedaan, agar tidak ada lagi Isi kebun binatang yang teridentik dengan kita kasarnya agar tidak ada lagi Monyet, Babi, Anjing, Ular, dan sebagainya setelah itu kita bicara tentang bangsa ini akan di bawa kemana dengan bentuk idealnya. Salam Indonesia

Penulis : Imam Alfian

CATEGORIES
TAGS
Share This
%d bloggers like this: